
Nyicil posting lagi !! hehe
Dari dulu sih ceritanya udah baca banyak novel gan, tapi bego aja kenapa nggak kepikiran buat nulis apa yang menurut kita menarik di dalam novel yang kita baca tersebut yaak? Kan kalo kita tulis suatu saat kita bisa ingat gimana sih jalan ceritanya?, pas bilang begini pas gimana sih tokohnya?, yaah namanya aje lupa yaa. biasa manusia. Hehe
Kali ini aku jadi inget buat catetin dah setiap kata, pesan, nasihat yang menurut aku bagus dan tertarik. Terlebih bisa dipraktekan di kehidupan nyata kita. Inilah novel rindu. Yang judulnya saja sudah buat aku jatuh cinta pas mendengarnya. Udah begitu ternyata postingan-postingan yang di sosmed makin bikin aku penasaran gimana sih isinya. Kenapa postingan pesan-pesannya ngena banget kayanya sama kehidupanku. Heleh lebay. Haha nggak ding. Tapi emang sinopsisnya buat orang yang jatuh cinta tetapi harus mengikhlaskan memang pas banget. Pas nyeseknya juga.
Yaudah cekidot, ini hasil resuman novel Rindunya abang Tere Liye. Maaf kalo masih banyak yang kelewat. Mungkin bacanya pas lagi sambil ngantuk juga.
- Do’a adalah sumber kekuatan yang tidak terbayangkan. Hal. 19
- Tidak dengan besar atau sangat besar, melainkan dengan menyebut angka. Hanya pelaut baik yang selalu bicara akurat, bukan ukuran relatif. Hal. 30
- Lantas memutuskan pergi naik kapal apapun yang bisa membawanya mungkin ke ujung dunia. Satu karena kebencian yang amat besar satu lagi karena rasa cinta yang sangat dalam. Hal. 33
- Kata siapa kita harus kenal dulu untuk ikut melambaikan tangan kesana? Hal. 45
- Mata air yang dangkal, tetap saja bermanfaat jika jernih dan tulus. Hal. 57
- Dalam banyak hal, diam justru banyak membawa kebaikan. Hal. 83
- Menyenangkan saat cinta sejatimu adalah sahabat terbaikmu. Hal. 89
- Hidup ini kadang berjalan misterius sekali. Ambo tidak pernah tahu akan pernah tahu akan bertemu siapa dalam hidupnya. Orang-orang datang silih berganti. Ada yang menjadi bagian penting. Ada yang segera terlupakan. Besok lusa, bahkan Ambo belajar banyak dalam artian benar-benar belajar dari sahabat kanak-kanak usia sembilan tahun ini. Hal. 142
- Tidak selalu orang lari dari sesuatu karena ketkutan atau ancaman. Kita juga bisa pergi karena kebencian, kesedihan atau pun karena harapan. Hal. 160
- Omong kosong! Semua kesibukan ini, pengalaman baru, tidak pernah mampu mengusir pergi kenangan itu. Jika itu sebuh benteng, maka benteng itu rapuh, rontok seketika. Jika sebuah tameng, maka tameng itu juga tipis dan ringkih, hancur seketika. Hal. 162-163
- Mungkin ialah bagian paling munafik dalam seluruh cerita. Hal. 232
- Tentu saja bukan perjalanan kapal ini yang kumaksud. Meski memang jarak pelabuhan jeddah masih berminggu-minggu. Melainkan perjalanan hidup kita. Kau masih muda. Perjalanan hidupmu boleh jadi masih jauh sekali, Nak. Hari demi hari, hanyalah pemberhentian kecil. Bulan demi bulanitupun hanya pelabuhan sedang. Pun tahun demi tahun. Mungkin itu bisa kita sebut dermaga transit besar. Tapi itu semua sifatnya hanya pemberhentian semua. Dengan segera kapal kita berangkat kembali, menuju tujuan yang paling hakiki. Hal. 284
- Maka jangan pernah merusak diri sendiri. Kita boleh jadi benci atas kehidupan ini. Boleh kecewa. Boleh marah. Tapi ingatlah nasihat lama, tidak pernah ada pelaut yang merusak kapalnya sendiri. Akan dia rawat kapalnya, hingga dia bisa di pelabuhan terakhir. Hal. 284
- ...kita keliru sekali jika lari dari sebuah kenyataan hidup, nak. .....tapi sungguh , kalau kau berusaha lari dari kenyataan itu, kau hanya menyulitkn diri sendiri. Ketahuilah, semakin keras kau berusaha lari, maka semakin kuat cengkeramannya. Semakin kencang kau berteriak melawan, maka semakin kencang pula gemanya memantul, memantul, dan memantul lagi memenuhi kepala. Hal. 312
- Cara terbaik menghadapi masa lalu adalah dengan dihadapi. Berdiri gagah. Mulailah dengan damai menerima masa lalumu. Buat apa dilawan? Dilupakan? Itu sudah menjadi bagian hidup kita. Peluk semua kisah itu. Berikan dia tempat terbaik dalam hidupmu. Itulah cara terbaik mengatasinya. Dengan kau menerimanya, perlahan-lahan, dia akan mundur sendiri. Disiram oleh waktu, dipoles oleh kenangan baru yang lebih bahagia. Hal. 312
- Maka ketahuilah, saat kita tertawa, hanya kitalah yang tahu persis apakah tawa itu bahagia atau tidak. Boleh jadi, kita sedang tertawa dalam kesedihan. Orang lain hanya melihat wajah. Saat kita menangispun sama, hanya kita yang tahu persis apakah tangisan itu sedih atau tidak. Boleh jadi kita sedang menangis dalam seluruh kebahagiaan. Orang lain hanya melihat luar. Maka, tidak relevan penilaian orang lain. Hal. 313
- Lihatlah kemari wahai gelap malam. Lihatlah seorang yang selalu menjawab pertanyaan orang lain, tetapi dia tidak pernah bisa menjawab pertanyaan sendiri. Lihatlah kemari wahai lautan luas. Lihatlah seorang yang selalu punya kata bijak untuk orang lain, tapi dia dia tidak pernah bijak untuk dirinya sendiri. Hal. 316
- Hidup ini akan rumit jika kita sibuk membahas hal yang seandainya begini, seandainya begitu. Hal. 331
- Selalu menyakitkan saat kita membenci sesuatu. Apalagi jika itu ternyata membenci orang yang seharusnya kita sayangi. Hal. 372
- Kita sebenarnya sedang membenci diri sendiri saat membenci orang lain. Hal. 373
- Ada orang-orang yang kita benci. Ada pula orang-orang yang kita sukai. Hilir-mudik datang dalam kehiduan kita. Tapi apakah kita berhak membenci orang lain? Sedangkan Allah sendiri tidak mengirimkan petir segera?. Hal. 373
- Pikirkan dalam-dalam kenapa kita harus benci? Kenapa? Padahal kita bisa saja mengatur hati kita, bilang saya tidak akan membencinya. Toh itu hati kita sendiri. Kita berkuasa penuh mengatur-aturnya. Kenapa kita tetap memutuskan membenci? Karena boleh jadi saat kita membenci orang lain, kita sebenarnya sedang mebenci diri kita sendiri. Hal. 373
- Saat kita memutuskan memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang itu salah dan kita benar. Apakah orang itu memang jahat atau aniaya. Bukan! Kita memutuskan memaafkan seseorang karena kita berhak atas kedamaian didalam hati kita. Hal. 374
- Kesalahan itu ibarat halaman kosong. Tiba-tiba ada yang mencoretnya dengan keliru. Kita bisa mwmaafkannya dengan menghapus tulisan tersebut, baik dengan penghapus biasa, dengan penghapus canggih, dengan apapun. Tapi tetap tersisa bekasnya. Tidak akan hilang. Agar semuanya benar-benar bersih, hanya satu jalan keluarnya, bukalah lembaran kertas baru yang benar-benar kosong. Hal. 375-376
- Buka lembaran baru, tutup lembaran yang pernah tercoret. Jangan diungkit-ungkit lagi. Jangan ada tapi, tapi dan tapi. Tutup lembaran tidak menyenangkan itu. Apakah mudah melakukannnya. Tidak mudah. Tapi jika kau sungguh-sungguh, jika kau berniat teguh , kau bisa melakukannnya. Mulailah hari ini. Mulailah detik ini. Hal. 376
- Setiap hari aku jatuh cinta. Setidaknya setiap melihat matahari terbit, aku jatuh cinta, mensyukuri hidupku. Setiap matahari tenggelam, aku jatuh cinta, berterima kasih atas sepanjang hari, baik itu menyebalkan atau menyenangkan. Bahkan melihat makanan dingin ini pun aku jatuh cinta. Hal. 400-401
- Dia tidak menjawab, diamnya seorang gadis berarti iya. Hal. 405
- Aku masih ingat sekali wajahnya, karena selalu kulukis setiap hari. Setiap hari aku jatuh cinta. Hal. 406
- Mulailah menerimanya dengan lapang hati. Karena kita mau menerima atau menolaknya, dia tetap terjadi. Takdir tidak pernah bertanya apa perasaan kita, apakah kita bahagia, apakah kita tidak suka. Takdir bahkan basa-basi menyapa pun tidak. Tidak peduli. Nah, kabar baiknya, karena kita tidak bisa mengendalikannnya, bukan karena kita tidak bisa mengendalikannya, bukan berarti kita jadi makhluk tidak berdaya. Kita tetap bisa mengendalikan diri sendiri bagaimana menyikapinya. Apakah bersedia menerimanya atau tidak. Hal. 471
- Biarkan waktu mengobati seluruh kesedihan. Ketika kita tidak tahu mau melakukan apalagi, ketika kita merasa semua sudah hilang, musnah, habis sudah, maka itulah saatnya untuk membiarkanwaktu menjadi obat terbaik. Hari demi hari akan menghapus selembar demi selembar kesedihan. Minggu demi minggu akan melepas sepapan demi sepapan kegelisahan. Bulan, tahun maka rontok sudahlah bangunan kesdihan didalam hati. Biarkan waktu mengobatinya, maka semoga kita lapang hat menerimanya. Sambil mengisi hari-hari denagn baik dan positif. Hal. 472
- Dalam situasi tertentu,sabar bahkan adalah penolong paling dahsyat. Tiada terkira. Dan shalat. Itu juga penolong terbaik tiada tara. Hal. 472
- Mulailah memahami kejadian ini dari kacamata berbeda, agar lengkap. Jangan memaksakan melihatnya dari kacamata kita. Terus bersikeras, bertanya, tidak terima. Jika itu yang kita lakukan, maka kita akan terus kembali, kembali dan kembali lagi ke posisi awal. Tidak pernah beranjak jauh. Hal. 473
- Harapan itu belum padam, sejauh apa pun kau pergi. Pun mkeinginan memiliki itu belum punah, sekuat apapun mengenyahkannya. Dan terakhir, kehilangan itu justru mewujud dan nyata. Setiap hari, semakin nampak wujudnya, semakin nyata kehilangannya. Hal. 492
- Apakah cinta sejati itu? Maka jawabannya, dalam kasus kau ini cinta sejati adalah melepaskan. Semakin sejati perasaan itu, maka semakin tulus kau melepaskannya. Hal. 492
- Lepaskanlah, maka besok lusa, jika dia adalah cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara yang mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu. Hal. 492
- Dengan meyakini itu, maka maka tidak mengapa kalau kau patah hati, tidak mengapa kalau kau kecewa, atau menangis tergugu karena harapan, keinginan memiliki , tapi jangan berlebihan. Jangan merusak diri sendiri. Selalu pahami, cinta yang baik selalu mengajari kau agar menjaga diri. Tidak melanggar batas, tidak melewati kaidah agama. Karena esok lusa, ada orang yang mengaku cinta, tapi dia melakukan banyak maksiat, menginjak-injak peraturan dalam agama, menodai cinta itu sendiri.Hal. 492-493
- Jika harapan keinginan dan memiliki itu belum tergapai, belum terwujud, maka teruslah memperbaiki diri sendiri, sibukkandengan belajar. Insya allah, besok lusa, Allah sendiri yang akan menyingkapakan misteri takdirnya. Hal. 493
- Sekali kau bisa mengendalikan harapan dan keinginan memiliki, maka sebesar apapun wujud kehilangan, kau akan siap menghadapinya. Kau siap menghadapi kenyataan apa pun. Jika pun akirnya kau tidak memiliki gadis itu, besok lusa kau akan mempeoleh pengganti yang lebih baik. Hal. 493
Dan ini sinopsis yang buat hatiku terenyuh, tulisan ini terdapat di halaman 494-495 juga di cover belakang buku, begini..
"Apalah arti memiliki”
ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?
“Apalah arti kehilangan”
ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan?
Apalah arti cinta, ketika menangis terluka atas perasaan yg seharusnya indah?
Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yg seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun?
Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan?
Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu?
Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja”