Jumat, 25 September 2015

Sebelum Aku Lupa

"Allaahu akbar Allaahu akbar Allaahu akbar, laa illaa haillallahuwaallaahuakbar Allaahu akbar walillaahil hamd'. "


Masih teringat jelas semua kenangan dibalik saat aku mendengar takbir itu, masih hafal setiap detail prosesnya. Samar bayanganmu masih bisa kubaca dipandangan kosongku, lamat-lamat suaramu masih terngiang di ruang sadarku, jejak langkah kakimu masih berbekas di jalan yang penuh kenangan ini, kerlingan matamu yang sayu namun terpancar kebahagiaan, dan semua bahasa tubuhmu yang kadang salah tingkah dan membuatku jadi tersenyum sendiri.

Dua bulan berlalu dari takbir idul fitri, takbir yang kembali mengulas paksa memori yang menyakitkan. Saat ekspresiku datar tersentak melihatmu memakai satu stel koko lengkap dengan peci,sarung dan sajadah digenggaman tangan kananmu di masjid saat sholat idul fitri. Betapa Tuhan menciptakan kamu menjadi orang yang luar biasa kerennya dengan satu set pakaian itu, betapa cerahnya aura dari wajahmu meskipun tahu ada kantuk yang kau simpan. Tetapi ini sungguhan, kamu cocok sekali ketika memakai pakaian itu. Aku belum lupa. Masih kental sekali ketika pagi tadi aku harus kembali menunaikan sholat id dan mendengar takbir di masjid, seakan langkah kakimu, ekspresi wajahmu, dan gelagat tubuhmu seakan kembali hadir dalam ilusiku, iya hanya ilusi. Dan hari kedepannya yang kau sulap menjadi istimewa oleh waktumu yang sungguh terbatas, itupun hanya kenangan.

Iya itu kamu. Sahabat kecilku yang pernah aku cintai lebih dari sahabat, membuatku nyaman yang sempat menjalani hubungan lebih dari sahabat dan sekarang menjadi daftar orang yang sama-sama berjuang untuk saling melupakan melupakan. Tidak secepat itu menghapus nama kamu sedangkan yang aku kenal kamu adalah orang  yang berperan dalam perjuanganku untuk bisa memboncengkan teman naik sepeda roda dua. Tidak mudah untuk menutup telingaku agar suaramu tak lagi terdengar jika lantunan nada dan petikan gitarmu di masa abu-abu dulu masih terngiang jelas. Tidak mudah melupakan senyum kamu yang sudah pernah aku nikmati dari 16 tahun lalu ketika gigi kita masih sama-sama ompong. Tidak mudah merubah kata aku dan kamu sahabat menjadi aku dan kamu kita dan sekarang harus merubah lagi menjadi aku dan entah siapa kamu menjadi orang yang tidak pernah saling mengenal. Aku tidak akan bisa memunafikan segalanya. Tidak bisa. Sungguh masih terlalu sulit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar