Masih teringat jelas semua kenangan dibalik
saat aku mendengar takbir itu, masih hafal setiap detail prosesnya. Samar
bayanganmu masih bisa kubaca dipandangan kosongku, lamat-lamat suaramu masih
terngiang di ruang sadarku, jejak langkah kakimu masih berbekas di jalan yang
penuh kenangan ini, kerlingan matamu yang sayu namun terpancar kebahagiaan, dan
semua bahasa tubuhmu yang kadang salah tingkah dan membuatku jadi tersenyum
sendiri.
Dua bulan berlalu dari takbir idul fitri,
takbir yang kembali mengulas paksa memori yang menyakitkan. Saat ekspresiku
datar tersentak melihatmu memakai satu stel koko lengkap dengan peci,sarung dan
sajadah digenggaman tangan kananmu di masjid saat sholat idul fitri. Betapa Tuhan
menciptakan kamu menjadi orang yang luar biasa kerennya dengan satu set pakaian
itu, betapa cerahnya aura dari wajahmu meskipun tahu ada kantuk yang kau
simpan. Tetapi ini sungguhan, kamu cocok sekali ketika memakai pakaian itu. Aku
belum lupa. Masih kental sekali ketika pagi tadi aku harus kembali menunaikan
sholat id dan mendengar takbir di masjid, seakan langkah kakimu, ekspresi
wajahmu, dan gelagat tubuhmu seakan kembali hadir dalam ilusiku, iya hanya ilusi.
Dan hari kedepannya yang kau sulap menjadi istimewa oleh waktumu yang sungguh
terbatas, itupun hanya kenangan.
Iya itu kamu. Sahabat kecilku yang pernah
aku cintai lebih dari sahabat, membuatku nyaman yang sempat menjalani hubungan
lebih dari sahabat dan sekarang menjadi daftar orang yang sama-sama berjuang untuk
saling melupakan melupakan. Tidak secepat itu menghapus nama kamu sedangkan yang
aku kenal kamu adalah orang yang
berperan dalam perjuanganku untuk bisa memboncengkan teman naik sepeda roda
dua. Tidak mudah untuk menutup telingaku agar suaramu tak lagi terdengar jika
lantunan nada dan petikan gitarmu di masa abu-abu dulu masih terngiang jelas. Tidak
mudah melupakan senyum kamu yang sudah pernah aku nikmati dari 16 tahun lalu
ketika gigi kita masih sama-sama ompong. Tidak mudah merubah kata aku dan kamu sahabat
menjadi aku dan kamu kita dan sekarang harus merubah lagi menjadi aku dan entah
siapa kamu menjadi orang yang tidak pernah saling mengenal. Aku tidak akan bisa
memunafikan segalanya. Tidak bisa. Sungguh masih terlalu sulit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar