Tapi keadaan tiba-tiba berubah ketika kau mengenal dia. Dia entah siapa yang telah membuatmu berpaling. Yang membutmu tega menyakiti hati yang jelas-jelas kau tahu, ada wanita yang menyayangimu dalam keadaan apapun. Wanita yang membuatmu heran mengapa begitu merindunya diri ini padamu. Entahlah, mungkin dia lebih cantik dan anggun. Dia yang pandai menggoreskan pensil di alisnya, merawat rambut hitam panjangnya, memakai maskara dan bulu mata. Sempurnanya dia menjadi wanita masa kekinian. Berbeda dengan aku. Sangat jauh.
Aku berjanji mulai detik ini aku akan membuangmu jauh-jauh dari fikiranku. Sebenarnya tak ingin memang. Ini hal terberat yang harus dihadapi. Tapi apalah daya,aku hanya wanita. Ada adab malu yang harus aku pertimbangkan. Berjuang terlalu keras hanya akan membuatmu semakin menjauh dan membenciku. Bukankah akan lebih meyakitkan jika harus dibenci dengan orang yang kita sayangi. Dan aku tak ingin terjadi. Tak apa aku pulang dengan penyesalan yang kubuat sendiri. Biarkanlah aku kalah dalam perjuangan ini toh semua perjuangan tidak ada yang sia-sia dimata Tuhan, meski tidak dimatamu. Aku masih mempunyai harga diri untuk tidak mengejar orang yang jelas-jelas tak menginginkanku sekarang. Orang yang jelas mati memilih jalan lain. Dan aku yang tertinggal disini sendiri apa pernah kau beri kesempatan untuk berbicara sesaknya yang ada didalam dada? Dadaku sesak tak tertahankan apa kau peduli? Melihat semua tempat kenangan membuatku lemah disekujur tubuh, mendengar lagu kesukaanmu membuatku menitihkan air mata apa kau mau tahu? Tidak. Apapun alasannya kamu tidak akan mau tahu tentang kebodohanku. Aku akui kekalahanku ini, aku yang berjuang untuk memantaskan hati agar selaras denganmu dan aku pula yang harus memaksa mematikan bara yang masih berkobar ini. Terima kasih pernah menjadi alasanku berjuang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar