
Yang semilir lirih di bawah temaramnya purnama.
Membekukan keegoisan karena ulahmu
Sampai kapan pula bersikukuh saling membisu
Padahal kerlingan kita dapat terbaca ingin beradu tawa
Memandang pucatnya purnama padahal hanya mendongakkan agar tak sampai haru.
Bagaimana kemunafikan ini dapat berkuasa ?
Bukankah aku telah lama merindukan keadaan tanpa spasi ini?
Tapi pasti kau ingat kan ?
Malam itu kau yang melukis mendung.
Kau yang menurunkan hujan hingga petir yang menyeruak kedalam palung hati.
Masih ingatkah? Kala hujan itu?
Dan aku (masih) disini, terjebak dijalanan dengan sisa tetes-tetes rinai yang terus bercerita.
Dingin, iya memang.
Aku kedinginan, sendirian.
Jika kau adalah penyebab hujanku,
mengapa harus kau tanyakan dinginnya ?
Bodoh atau memang mentarimu lebih hangat dari musim hujanku?
Tahukah kau, apa yang aku lewati semusim ini?
Aku sibuk. Iya aku sibuk melewati musim ini.
Aku sibuk menyeka hujan setiap malam
Aku sibuk berpura-pura bersinarkan mentari
Aku sibuk pontang-panting kesana kemari mengumpulkan serpihan yang kau hancurkan
Aku sibuk menata serpihannya untuk masa depan
Aku sibuk bagaimana aku
menciptakan pelangi setelah hujan ini berlalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar