Senin, 02 November 2015

Hujan dibalik Purnama

Sampai kapan aku menangkis deru angin ini
Yang semilir lirih di bawah temaramnya purnama.
Membekukan keegoisan karena ulahmu
Sampai kapan pula bersikukuh saling membisu
Padahal kerlingan kita dapat terbaca ingin beradu tawa
Memandang pucatnya purnama padahal hanya mendongakkan agar tak sampai haru.

Bagaimana kemunafikan ini dapat berkuasa ?
Bukankah aku telah lama merindukan keadaan tanpa spasi ini?
Tapi pasti kau ingat kan ?
Malam itu kau yang melukis mendung.
Kau yang menurunkan hujan hingga petir yang menyeruak kedalam palung hati.

Masih ingatkah? Kala hujan itu?
Dan aku (masih) disini, terjebak dijalanan dengan sisa tetes-tetes rinai yang terus bercerita.
Dingin, iya memang.
Aku kedinginan, sendirian.

Jika kau adalah penyebab hujanku,
mengapa harus kau tanyakan dinginnya ?
Bodoh atau memang mentarimu lebih hangat dari musim hujanku?
Tahukah kau, apa yang aku lewati semusim ini?
Aku sibuk. Iya aku sibuk melewati musim ini.
Aku sibuk menyeka hujan setiap malam
Aku sibuk berpura-pura bersinarkan mentari
Aku sibuk pontang-panting kesana kemari mengumpulkan serpihan yang kau hancurkan
Aku sibuk menata serpihannya untuk masa depan
Aku sibuk bagaimana aku
menciptakan pelangi setelah hujan ini berlalu.

Jumat, 25 September 2015

Sebelum Aku Lupa

"Allaahu akbar Allaahu akbar Allaahu akbar, laa illaa haillallahuwaallaahuakbar Allaahu akbar walillaahil hamd'. "


Masih teringat jelas semua kenangan dibalik saat aku mendengar takbir itu, masih hafal setiap detail prosesnya. Samar bayanganmu masih bisa kubaca dipandangan kosongku, lamat-lamat suaramu masih terngiang di ruang sadarku, jejak langkah kakimu masih berbekas di jalan yang penuh kenangan ini, kerlingan matamu yang sayu namun terpancar kebahagiaan, dan semua bahasa tubuhmu yang kadang salah tingkah dan membuatku jadi tersenyum sendiri.

Dua bulan berlalu dari takbir idul fitri, takbir yang kembali mengulas paksa memori yang menyakitkan. Saat ekspresiku datar tersentak melihatmu memakai satu stel koko lengkap dengan peci,sarung dan sajadah digenggaman tangan kananmu di masjid saat sholat idul fitri. Betapa Tuhan menciptakan kamu menjadi orang yang luar biasa kerennya dengan satu set pakaian itu, betapa cerahnya aura dari wajahmu meskipun tahu ada kantuk yang kau simpan. Tetapi ini sungguhan, kamu cocok sekali ketika memakai pakaian itu. Aku belum lupa. Masih kental sekali ketika pagi tadi aku harus kembali menunaikan sholat id dan mendengar takbir di masjid, seakan langkah kakimu, ekspresi wajahmu, dan gelagat tubuhmu seakan kembali hadir dalam ilusiku, iya hanya ilusi. Dan hari kedepannya yang kau sulap menjadi istimewa oleh waktumu yang sungguh terbatas, itupun hanya kenangan.

Iya itu kamu. Sahabat kecilku yang pernah aku cintai lebih dari sahabat, membuatku nyaman yang sempat menjalani hubungan lebih dari sahabat dan sekarang menjadi daftar orang yang sama-sama berjuang untuk saling melupakan melupakan. Tidak secepat itu menghapus nama kamu sedangkan yang aku kenal kamu adalah orang  yang berperan dalam perjuanganku untuk bisa memboncengkan teman naik sepeda roda dua. Tidak mudah untuk menutup telingaku agar suaramu tak lagi terdengar jika lantunan nada dan petikan gitarmu di masa abu-abu dulu masih terngiang jelas. Tidak mudah melupakan senyum kamu yang sudah pernah aku nikmati dari 16 tahun lalu ketika gigi kita masih sama-sama ompong. Tidak mudah merubah kata aku dan kamu sahabat menjadi aku dan kamu kita dan sekarang harus merubah lagi menjadi aku dan entah siapa kamu menjadi orang yang tidak pernah saling mengenal. Aku tidak akan bisa memunafikan segalanya. Tidak bisa. Sungguh masih terlalu sulit.

Senin, 21 September 2015

Rindu

Nyicil posting lagi !! hehe

Dari dulu sih ceritanya udah baca banyak novel gan, tapi bego aja kenapa nggak kepikiran buat nulis apa yang menurut kita menarik di dalam novel yang kita baca tersebut yaak? Kan kalo kita tulis suatu saat kita bisa ingat gimana sih jalan ceritanya?, pas bilang begini pas gimana sih tokohnya?, yaah namanya aje lupa yaa. biasa manusia. Hehe

Kali ini aku jadi inget buat catetin dah setiap kata, pesan, nasihat yang menurut aku bagus dan tertarik. Terlebih bisa dipraktekan di kehidupan nyata kita. Inilah novel rindu. Yang judulnya saja sudah buat aku jatuh cinta pas mendengarnya. Udah begitu ternyata postingan-postingan yang di sosmed makin bikin aku penasaran gimana sih isinya. Kenapa postingan pesan-pesannya ngena banget kayanya sama kehidupanku. Heleh lebay. Haha nggak ding. Tapi emang sinopsisnya buat orang yang jatuh cinta tetapi harus mengikhlaskan memang pas banget. Pas nyeseknya juga.

Yaudah cekidot, ini hasil resuman novel Rindunya abang Tere Liye. Maaf kalo masih banyak yang kelewat. Mungkin bacanya pas lagi sambil ngantuk juga.
  1. Do’a adalah sumber kekuatan yang tidak terbayangkan. Hal. 19
  2. Tidak dengan besar atau sangat besar, melainkan dengan menyebut angka. Hanya pelaut baik yang selalu bicara akurat, bukan ukuran relatif. Hal. 30 
  3. Lantas memutuskan pergi naik kapal apapun yang bisa membawanya mungkin ke ujung dunia. Satu karena kebencian yang amat besar satu lagi karena rasa cinta yang sangat dalam. Hal. 33 
  4. Kata siapa kita harus kenal dulu untuk ikut melambaikan tangan kesana? Hal. 45
  5. Mata air yang dangkal, tetap saja bermanfaat jika jernih dan tulus. Hal. 57
  6. Dalam banyak hal, diam justru banyak membawa kebaikan. Hal. 83
  7. Menyenangkan saat cinta sejatimu adalah sahabat terbaikmu. Hal. 89
  8. Hidup ini kadang berjalan misterius sekali. Ambo tidak pernah tahu akan pernah tahu akan bertemu siapa dalam hidupnya. Orang-orang datang silih berganti. Ada yang menjadi bagian penting. Ada yang segera terlupakan. Besok lusa, bahkan Ambo belajar banyak dalam artian benar-benar belajar dari sahabat kanak-kanak usia sembilan tahun ini. Hal. 142
  9. Tidak selalu orang lari dari sesuatu karena ketkutan atau ancaman. Kita juga bisa pergi karena kebencian, kesedihan atau pun karena harapan. Hal. 160
  10. Omong kosong! Semua kesibukan ini, pengalaman baru, tidak pernah mampu mengusir pergi kenangan itu. Jika itu sebuh benteng, maka benteng itu rapuh, rontok seketika. Jika sebuah tameng, maka tameng itu juga tipis dan ringkih, hancur seketika. Hal. 162-163
  11. Mungkin ialah bagian paling munafik dalam seluruh cerita. Hal. 232
  12. Tentu saja bukan perjalanan kapal ini yang kumaksud. Meski memang jarak pelabuhan jeddah masih berminggu-minggu. Melainkan perjalanan hidup kita. Kau masih muda. Perjalanan hidupmu boleh jadi masih jauh sekali, Nak. Hari demi hari, hanyalah pemberhentian kecil. Bulan demi bulanitupun hanya pelabuhan sedang. Pun tahun demi tahun. Mungkin itu bisa kita sebut dermaga transit besar. Tapi itu semua sifatnya hanya pemberhentian semua. Dengan segera kapal kita berangkat kembali, menuju tujuan yang paling hakiki. Hal. 284
  13. Maka jangan pernah merusak diri sendiri. Kita boleh jadi benci atas kehidupan ini. Boleh kecewa. Boleh marah. Tapi ingatlah nasihat lama, tidak pernah ada pelaut yang merusak kapalnya sendiri. Akan dia rawat kapalnya, hingga dia bisa di pelabuhan terakhir. Hal. 284
  14. ...kita keliru sekali jika lari dari sebuah kenyataan hidup, nak. .....tapi sungguh , kalau kau berusaha lari dari kenyataan itu, kau hanya menyulitkn diri sendiri. Ketahuilah, semakin keras kau berusaha lari, maka semakin kuat cengkeramannya. Semakin kencang kau berteriak melawan, maka semakin kencang pula gemanya memantul, memantul, dan memantul lagi memenuhi kepala. Hal. 312 
  15. Cara terbaik menghadapi masa lalu adalah dengan dihadapi. Berdiri gagah. Mulailah dengan damai menerima masa lalumu. Buat apa dilawan? Dilupakan? Itu sudah menjadi bagian hidup kita. Peluk semua kisah itu. Berikan dia tempat terbaik dalam hidupmu. Itulah cara terbaik mengatasinya. Dengan kau menerimanya, perlahan-lahan, dia akan mundur sendiri. Disiram oleh waktu, dipoles oleh kenangan baru yang lebih bahagia. Hal. 312
  16. Maka ketahuilah, saat kita tertawa, hanya kitalah yang tahu persis apakah tawa itu bahagia atau tidak. Boleh jadi, kita sedang tertawa dalam kesedihan. Orang lain hanya melihat wajah. Saat kita menangispun sama, hanya kita yang tahu persis apakah tangisan itu sedih atau tidak. Boleh jadi kita sedang menangis dalam seluruh kebahagiaan. Orang lain hanya melihat luar. Maka, tidak relevan penilaian orang lain. Hal. 313
  17. Lihatlah kemari wahai gelap malam. Lihatlah seorang yang selalu menjawab pertanyaan orang lain, tetapi dia tidak pernah bisa menjawab pertanyaan sendiri. Lihatlah kemari wahai lautan luas. Lihatlah seorang yang selalu punya kata bijak untuk orang lain, tapi dia dia tidak pernah bijak untuk dirinya sendiri. Hal. 316
  18. Hidup ini akan rumit jika kita sibuk membahas hal yang seandainya begini, seandainya begitu. Hal. 331
  19. Selalu menyakitkan saat kita membenci sesuatu. Apalagi jika itu ternyata membenci orang yang seharusnya kita sayangi. Hal. 372
  20. Kita sebenarnya sedang membenci diri sendiri saat membenci orang lain. Hal. 373
  21. Ada orang-orang yang kita benci. Ada pula orang-orang yang kita sukai. Hilir-mudik datang dalam kehiduan kita. Tapi apakah kita berhak membenci orang lain? Sedangkan Allah sendiri tidak mengirimkan petir segera?. Hal. 373 
  22. Pikirkan dalam-dalam kenapa kita harus benci? Kenapa? Padahal kita bisa saja mengatur hati kita, bilang saya tidak akan membencinya. Toh itu hati kita sendiri. Kita berkuasa penuh mengatur-aturnya. Kenapa kita tetap memutuskan membenci? Karena boleh jadi saat kita membenci orang lain, kita sebenarnya sedang mebenci diri kita sendiri. Hal. 373
  23. Saat kita memutuskan memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang itu salah dan kita benar. Apakah orang itu memang jahat atau aniaya. Bukan! Kita memutuskan memaafkan seseorang karena kita berhak atas kedamaian didalam hati kita. Hal. 374
  24. Kesalahan itu ibarat halaman kosong. Tiba-tiba ada yang mencoretnya dengan keliru. Kita bisa mwmaafkannya dengan menghapus tulisan tersebut, baik dengan penghapus biasa, dengan penghapus canggih, dengan apapun. Tapi tetap tersisa bekasnya. Tidak akan hilang. Agar semuanya benar-benar bersih, hanya satu jalan keluarnya, bukalah lembaran kertas baru yang benar-benar kosong. Hal. 375-376
  25. Buka lembaran baru, tutup lembaran yang pernah tercoret. Jangan diungkit-ungkit lagi. Jangan ada tapi, tapi dan tapi. Tutup lembaran tidak menyenangkan itu. Apakah mudah melakukannnya. Tidak mudah. Tapi jika kau sungguh-sungguh, jika kau berniat teguh , kau bisa melakukannnya. Mulailah hari ini. Mulailah detik ini. Hal. 376
  26. Setiap hari aku jatuh cinta. Setidaknya setiap melihat matahari terbit, aku jatuh cinta, mensyukuri hidupku. Setiap matahari tenggelam, aku jatuh cinta, berterima kasih atas sepanjang hari, baik itu menyebalkan atau menyenangkan. Bahkan melihat makanan dingin ini pun aku jatuh cinta. Hal. 400-401
  27. Dia tidak menjawab, diamnya seorang gadis berarti iya. Hal. 405
  28. Aku masih ingat sekali wajahnya, karena selalu kulukis setiap hari. Setiap hari aku jatuh cinta. Hal. 406
  29. Mulailah menerimanya dengan lapang hati. Karena kita mau menerima atau menolaknya, dia tetap terjadi. Takdir tidak pernah bertanya apa perasaan kita, apakah kita bahagia, apakah kita tidak suka. Takdir bahkan basa-basi menyapa pun tidak. Tidak peduli. Nah, kabar baiknya, karena kita tidak bisa mengendalikannnya, bukan karena kita tidak bisa mengendalikannya, bukan berarti kita jadi makhluk tidak berdaya. Kita tetap bisa mengendalikan diri sendiri bagaimana menyikapinya. Apakah bersedia menerimanya atau tidak. Hal. 471
  30. Biarkan waktu mengobati seluruh kesedihan. Ketika kita tidak tahu mau melakukan apalagi, ketika kita merasa semua sudah hilang, musnah, habis sudah, maka itulah saatnya untuk membiarkanwaktu menjadi obat terbaik. Hari demi hari akan menghapus selembar demi selembar kesedihan. Minggu demi minggu akan melepas sepapan demi sepapan kegelisahan. Bulan, tahun maka rontok sudahlah bangunan kesdihan didalam hati. Biarkan waktu mengobatinya, maka semoga kita lapang hat menerimanya. Sambil mengisi hari-hari denagn baik dan positif. Hal. 472
  31. Dalam situasi tertentu,sabar bahkan adalah penolong paling dahsyat. Tiada terkira. Dan shalat. Itu juga penolong terbaik tiada tara. Hal. 472
  32. Mulailah memahami kejadian ini dari kacamata berbeda, agar lengkap. Jangan memaksakan melihatnya dari kacamata kita. Terus bersikeras, bertanya, tidak terima. Jika itu yang kita lakukan, maka kita akan terus kembali, kembali dan kembali lagi ke posisi awal. Tidak pernah beranjak jauh. Hal. 473
  33. Harapan itu belum padam, sejauh apa pun kau pergi. Pun mkeinginan memiliki itu belum punah, sekuat apapun mengenyahkannya. Dan terakhir, kehilangan itu justru mewujud dan nyata. Setiap hari, semakin nampak wujudnya, semakin nyata kehilangannya. Hal. 492
  34. Apakah cinta sejati itu? Maka jawabannya, dalam kasus kau ini cinta sejati adalah melepaskan. Semakin sejati perasaan itu, maka semakin tulus kau melepaskannya. Hal. 492
  35. Lepaskanlah, maka besok lusa, jika dia adalah cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara yang mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu. Hal. 492 
  36. Dengan meyakini itu, maka maka tidak mengapa kalau kau patah hati, tidak mengapa kalau kau kecewa, atau menangis tergugu karena harapan, keinginan memiliki , tapi jangan berlebihan. Jangan merusak diri sendiri. Selalu pahami, cinta yang baik selalu mengajari kau agar menjaga diri. Tidak melanggar batas, tidak melewati kaidah agama. Karena esok lusa, ada orang yang mengaku cinta, tapi dia melakukan banyak maksiat, menginjak-injak peraturan dalam agama, menodai cinta itu sendiri.Hal. 492-493
  37. Jika harapan keinginan dan memiliki itu belum tergapai, belum terwujud, maka teruslah memperbaiki diri sendiri, sibukkandengan belajar. Insya allah, besok lusa, Allah sendiri yang akan menyingkapakan misteri takdirnya. Hal. 493 
  38. Sekali kau bisa mengendalikan harapan dan keinginan memiliki, maka sebesar apapun wujud kehilangan, kau akan siap menghadapinya. Kau siap menghadapi kenyataan apa pun. Jika pun akirnya kau tidak memiliki gadis itu, besok lusa kau akan mempeoleh pengganti yang lebih baik. Hal. 493

Dan ini sinopsis yang buat hatiku terenyuh, tulisan ini terdapat di halaman 494-495 juga di cover belakang buku, begini..

"Apalah arti memiliki”
ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?

“Apalah arti kehilangan”
ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan?

Apalah arti cinta, ketika menangis terluka atas perasaan yg seharusnya indah?
Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yg seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun?

Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan?
Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu?
Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja”

Rabu, 16 September 2015

Mulai Saat itu Aku Anggap Kau Hanya Orang Lain

Hal yang membuat aku mengerti apa itu menyayangi seseorang dengan ketulusan tanpa melihat kelebihan dari suatu apapun pada dirimu. Bahwa sebenarnya bukan karena kamu mempunyai kelebihan dalam segi apapun sehingga membuatku tertarik. Tapi kembali lagi pada kenyamanan yang aku rasakan waktu itu. Tidak perlu alasan banyak untuk bisa menyayangimu sejauh ini, jika aku tanya mengapa aku bisa sejauh ini sampai sekarangpun aku masih mencari jawabannya. Aku belum menemukan alasan apa yang tepat untuk diriku sendiri mengapa bisa jatuh cinta denganmu. Jatuh cinta dengan teman masa kecil yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.


Tapi keadaan tiba-tiba berubah ketika kau mengenal dia. Dia entah siapa yang telah membuatmu berpaling. Yang membutmu tega menyakiti hati yang jelas-jelas kau tahu, ada wanita yang menyayangimu dalam keadaan apapun. Wanita yang membuatmu heran mengapa begitu merindunya diri ini padamu. Entahlah, mungkin dia lebih cantik dan anggun. Dia yang pandai menggoreskan pensil di alisnya, merawat rambut hitam panjangnya, memakai maskara dan bulu mata. Sempurnanya dia menjadi wanita masa kekinian. Berbeda dengan aku. Sangat jauh.

Aku berjanji mulai detik ini aku akan membuangmu jauh-jauh dari fikiranku. Sebenarnya tak ingin memang. Ini hal terberat yang harus dihadapi. Tapi apalah daya,aku hanya wanita. Ada adab malu yang harus aku pertimbangkan. Berjuang terlalu keras hanya akan membuatmu semakin menjauh dan membenciku. Bukankah akan lebih meyakitkan jika harus dibenci dengan orang yang kita sayangi. Dan aku tak ingin terjadi. Tak apa aku pulang dengan penyesalan yang kubuat sendiri. Biarkanlah aku kalah dalam perjuangan ini toh semua perjuangan tidak ada yang sia-sia dimata Tuhan, meski tidak dimatamu. Aku masih mempunyai harga diri untuk tidak mengejar orang yang jelas-jelas tak menginginkanku sekarang. Orang yang jelas mati memilih jalan lain. Dan aku yang tertinggal disini sendiri apa pernah kau beri kesempatan untuk berbicara sesaknya yang ada didalam dada? Dadaku sesak tak tertahankan apa kau peduli? Melihat semua tempat kenangan membuatku lemah disekujur tubuh, mendengar lagu kesukaanmu membuatku menitihkan air mata apa kau mau tahu? Tidak. Apapun alasannya kamu tidak akan mau tahu tentang kebodohanku. Aku akui kekalahanku ini, aku yang berjuang untuk memantaskan hati agar selaras denganmu dan aku pula yang harus memaksa mematikan bara yang masih berkobar ini. Terima kasih pernah menjadi alasanku berjuang.